nilanews.com

Fokus Dan Tuntas

BI NINA, MANG EEP, ENDANG, INDRA, WAWAN DISAKSIKAN DANRAMIL SEPAKAT LAWAN SI COVID DENGAN JURUS PAMUNGKAS?

Mang Eep, Kades Tambakan, Camat Jalancagak, Bi Nina dan Danramil

Mang Eep, Kades Tambakan, Camat Jalancagak, Bi Nina dan Danramil

(Prosa dalam Berita oleh Mang Eep Hidayat)

nilanews.com _ Pemantauan covid oleh  Bi Nina, DPRD Jawa Barat dari Partai NasDem ke Desa Cijambe dan Kecamatan Jalancagak bukan sekedar mencari data covid melainkan lebih pada bagaimana mendiskusikan penanganan ‘’makhluk virus’’ yang sangat mengerikan tersebut, tentu bukan diskusi dalam ‘’meja serius’’ melainkan di depan ‘’warung budak si ema’’ sambil berjemur social distancing.

Prilaku Bi Nina yang ‘’tergantung Alloh’’ mulai terungkapkan dan katanya, bahwa terpenting adalah ikhtiar, ada pun akhirnya harus terkena corona, itu semua kehendak Alloh dan lanjutnya, corona bisa ‘’membunuh’’ di satu sisi atas ijin Alloh tetapi di sisi lain Alloh memberikan kasih sayangnya dengan menyediakan fasilitas syahid (surga) bagi yang sabar terkena corona sehingga ditaqdirkan meninggal dunia.

Dalam suasana ‘’keduniawian’’ tentu pendapat Bi Nina bukan pendapat yang ‘’mengenakkan’’ melainkan sebagai pendapat yang biasa mendapat perlawanan terutama dari mereka yang merasa masih mempunyai ‘’PR Dunia’’ dan menginginkan kepulangan ke alam kekal nanti (mati) setelah persoalan duniawi dapat diselesaikan dan bekal keakhiratan sudah dipersiapkan, seolah-olah kematian bisa direncanakan seperti itu, dan kalau mati saat ini belum bisa merasa ikhlas. Padahal menurut Bi Nina, belum merasa ikhlas dalam menghadapi kematian tersebut, adalah penyakit yang jauh lebih mengerikan dibandingkan serangan corona karena berakibat mengalami penyakit kekal di yaumil akhir.

Ungkapan Bi Nina tersebut ditanggapi canda oleh suaminya, ‘’over laving’’, seharusnya yang berbicara seperti itu bukan Bi Nina yang lulusan LPS ST. ANGELA melaikan mestinya keluar dari mulut suaminya yang lulusan Ushuluddin IAIN sehingga membuat peserta diskusi bisa tersenyum di tengah-tengah serangan corona.

Endang Tutu, Kades Tambakan, mengatakan, pentingnya pencerahan secara kejiwaan di tengah-tengah ‘’serangan berita tv dan medsos’’ yang setiap hari membicarakan penambahan jumlah pasen yang terjangkit dan yang meninggal dunia, terkadang menimbulkan penyakit parno, muka terasa gatal, hidung dan mata juga, flu takut corona apalagi batuk filek disertai agak sesak di dada sangat dihantui corona, sedangkan tes permulaan harganya juga selangit karena yang gratis masih diperuntukkan bagi kalangan ODP.

Kades Cijambe mengatakan perlunya vitamin bagi masyarakat untuk menguatkan kondisi tubuh, sementara Kades Jalancagak mengatakan, kita tidak bisa menghimbau ‘’pengalihan shalat jum’at’’ di tengah-tengah karyawan pabrik yang tidak diliburkan, sedikit bernada protes.

Kades Cijambe, Bi Nina Nurhayati dan Mang Eep

Bahwa apa pun yang disampaikan oleh setiap orang ‘’wajar adanya’’ dilihat dari sisi duniawi termasuk kemarahan kepada Pemerintah yang dianggap kurang siap dan dituntut menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat sebagai konsekuensi kebijakan ‘’diam di rumah’’ dan atau lock down bila diperlukan.

Membicarakan corona memang komplek, bukan hanya terkait kesehatan, melainkan meringkus berbagai persoalan kehidupan, ketika pabrik harus diliburkan misalnya, kalau di Subang ada seratus ribu karyawan, gajih per orang Rp. 2.500.000,00, maka per tahun berarti sebesar tiga triliun rupiah akan menjadi persoalan komplek ketika dana sebesar itu dituntut untuk dibayarkan oleh perusahaan dan atau ditanggulangi Pemerintah, belum pajak lain yang hilang dan tentu saja jumlahnya ratusan miliaran per tahun, dampak ekonomi bukan tidak mungkin bisa menimbulkan persoalan paling komplek.

Membicarakan ekonomi buruh baru dari satu sisi, belum dari sisi TKI/TKW, pedagang, bahkan termasuk tukang ngamen pun terkena imbasnya karena pemilik mobil enggan membukakan pintu mobilnya, sungguh corona menimbulkan persoalan yang begitu komplek, lahir dan batin! Bahkan persoalan yang paling pribadi, pesta pernikahan misalnya, dibubarkan yang menghasilkan anekdot, kesempatan kepada calon mertua untuk mengatakan keinginan pesta besar-besaran tapi di awal April 2020 seolah-olah telah mempunyai persiapan anggaran yang memadai, padahal omdo.

Dalam kondisi diserang corona, bantuan bisa menimbulkan persoalan, Bangub Jabar berupa sembako dan uang misalnya, banyak diperbincangkan, di satu sisi anugerah, namun disisi lain menimbulkan kekhawatiran tidak mencukupi dan menyulut protes masyarakat. Nah, sampai yang disebut bantuan pun dikhawatirkan menimbulkan persoalan berarti persoalan yang disebabkan corona telah bisa dan syah disebut dengan ‘’persoalan komplek.’’

Sebelum Bi Nina membagikan handsanitizer kepada peserta diskusi dadakan termasuk kepada masyarakat yang ‘’menonton’’ diskusi, Kades Tambakan menimpali, meminta pendapat mang Eep dalam kapasitas bukan sebagai Ketua NasDem melainkan dalam kapasitas alumni IAIN, maka berebet diterangkan oleh suami Bi Nina konklusinya karena diskusi harus menemukan dan memberikan kesimpulan.

Ini Indonesia, ini negara berkembang, ini bukan negara maju, ini kabupaten, kalau terjadi serangan besar, dari satu juta enam ratus orang terkena seribu orang, apakah RSUD telah mempunyai kesiapan untuk merawat seperti itu? Kalau terkena 2.000 orang dan apalagi kalau terkena sepuluh prosen dari jumlah penduduk yang berarti seratus enam puluh ribu orang, maka bagaimana penanganannya? Jawaban antisipasi agar tidak terjadi kondisi yang sangat mengerikan adalah lockdown dengan segala konsekuensinya! Tetapi benarkah sebagai jawaban final?

Corona adalah makhluk Alloh dan tugasnya berdzikir kepada Alloh, maka mang Eep mengilustrasikan kepada Camat Jalancagak sebagai pegawai yang bertanggungjawab kepada Bupati secara langsung, berbeda dengan sekmat atau kabid, maka corona adalah makhluk Alloh yang ditugaskan berdzikir kepada Alloh dan melaksanakan perintah Alloh sebagaimana manusia yang bisa jadi corona bertanggungjawab kepada Alloh secara langsung, namun dibandingkan manusia terdapat perbedaan, ketika manusia ditugaskan untuk beribadah kepada dan karena Alloh, maka ada yang taat dan yang inkar, berbeda dengan corona yang taat kepada Alloh sehingga dalam bahasa imajiner melaporkan seluruh pekerjaannya kepada Alloh termasuk tentang situasi dan kondisi manusia saat menghadapi wabah corona walaupun Alloh Maha Tahu.

Diilustrasikan, tersebutlah di sebuah desa bernama Tambakan, seluruh penduduknya, terlepas dari latar belakang apa pun,  baik yang shalat maupun yang tidak shalat, baik yang membayar zakat maupun yang lalai, semua berdzikir setiap hari dengan mengucapkan lapadz ‘’ya Alloh’’, kalimat yang mudah dihapal bahkan sudah pada hapal termasuk anak-anak kecil sekalipun, maka dalam laporan imajiner sang corona kepada Alloh, mudah-mudahan atas ijin Alloh menjadi laporan sesungguhnya, ‘’ya Alloh ada sebuah desa bernama Tambakan yang berada di Kecamatan Jalancagak Subang Jawa Barat Indonesia, ketika diserang olehku atas ijin-Mu, selain mereka semua pada mencuci tangan dan melakukan tindakan sebagaimana dianjurkan oleh Pemerintahnya melalui para petugas kesehatan, mereka semua menyebut nama-Mu dengan lapadz ya Alloh ya Alloh terus menerus tiada henti, baik dilakukan oleh mereka yang melaksanakan shalat maupun yang tidak melaksanakan shalat, baik yang tua maupun yang muda, semua menyebut nama-Mu ya Alloh sehingga aku memohon kepada-Mu ya Alloh, janganlah aku ditugaskan kepada desa yang kompak menyebut nama-Mu dalam kesehariannya, aku tidak kuasa memasuki mata, hidung dan mulut mereka yang berasal dari sebuah desa yang kompak menyebut nama-Mu ya Alloh.’’

Negara-negara maju telah menunjukkan ketidakberdayaannya, apalagi Indonesia, apalagi Kabupaten Subang, maka selain cara-cara ilmiah seperti cuci tangan, pulang ke rumah langsung mandi dan bajunya langsung direndam pakai sabun, makan minum vitamin atau ramuan leluhur, jangan kurang tidur, pakai masker, termasuk karantina mandiri di rumah dan lain sebagainya, kiranya perlu dicarikan upaya Ilahiyah yang gampang dicerna masyarakat, maka marilah kita semua berdzikir, paling tidak dengan menyebut ‘’ya Alloh ya Alloh ya Alloh…’’ agar tugas corona bersifat adhoc (berbatas waktu) sampai manusia menyebut nama-Nya.

Setelah mendengar do’a imajiner corona, Wawan Camat Jalancagak, Indra Kades Jalancagak, Endang Kades Tambakan, Bi Nina Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai NasDem, mang Eep Ketua Partai NasDem Subang disaksikan Safrudin Danramil Jalancagak dan penonton rapat di bawah sinar matahari, kompak akan mengajak masyarakat berdzikir setiap hari dengan lapadz ‘’ya Alloh,’’ dan itulah yang dimaksud dengan jurus pamungkas, setelah berikhtiar kemudian melaporkan kepada Alloh, ‘’ya Alloh, hamba-Mu telah melaksanakan segala ikhtiar ilmiah agar terhindar dari sengatan makhluk ciptaan-Mu yang sangat kecil sehingga tidak terlihat, dan hamba-Mu senantiasa menyebut nama-Mu, selamatkanlah hamba-Mu, keluarga hamba-Mu dan seluruh masyarakat ya Alloh, namun apa pun yang menjadi kehendak-Mu maka hamba-Mu menerima dengan kesabaran dan keikhlasan, ya Alloh ya Alloh ya Alloh…aamiin ya Rabbal’alamiin’’ (Subang, 7 April 2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *