nilanews.com

Fokus Dan Tuntas

Derita Buruh Akibat Covid-19, Derita Kita Semua

Shintia Mustika

Shintia Mustika

Pemberitaan mengenai narapidana bebas yang kembali melakukan tindak kejahatan di tengah pandemi corona mewarnai berbagai kanal media. Tindak kejahatan yang dilakukan hampir serupa, yakni melakukan tindak pencurian. Dalam wawancara, mereka mengatakan kebingungan untuk melanjutkan hidup dalam masa krisis pandemi covid-19 ini karena tidak memiliki uang.

Masih hangat di telinga, beberapa waktu sebelum covid-19 terdeteksi di Indonesia. Banyak  suara-suara positif dikeluarkan oleh para pejabat yang mengatakan bahwa Covid-19 diyakini tidak akan tersebar di Indonesia. Bahkan pemerintah sempat mengumukan sudah siap dalam menghadapi virus corona. Sehingga, sempat menggenjot pariwisata di tengah virus ini menghantui masyarakat global.

Suara-suara itu kini mulai sayup. Diumumkan kasus pertama terinfeksi virus corona ditemukan di awal bulan Maret 2020. Hari ini menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI sejumlah 10.551 jiwa masyarakat Indonesia terjangkit positif virus corona. Sayangnya, aspek kesehatan merupakan aspek vital yang mendorong terganggunya aspek vital lain dalam negara seperti perekonomian.

Per 29 April 2020, sejumlah 229.789 orang telah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Perusahaan-perusahaan mulai kebingungan mempertahankan posisinya agar tidak bangkrut, bahkan tidak jarang yang gulung tikar. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang terhantui beban perekonomian. Harga makanan yang kian meningkat, tagihan sewa rumah, pemakaian listrik, pemakaian air, dan tagihan-tagihan lain yang tiada henti.

Hari ini, mungkin masih banyak yang mencemooh narapidana yang kembali melakukan tindakan kejahatan pencurian. Namun, pernahkah terpikir, bahwa lama-kelamaan tindakan ini bisa menjadi tindakan yang dilakukan secara masif? Gambaran orang-orang yang sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk tetap hidup. Ketakutan manusia akan menghadapai kematian karena kelaparan.

Kini, masih terlihat orang-orang yang masih berdiri dengan gaji bulanannya. Orang-orang yang memiliki keberuntungan masih menjadi buruh yang tidak di PHK. Mereka masih bisa melakukan kegiatan work from home. Meski terdapat banyak keluhan karena harus bekerja lebih keras karena bekerja di rumah menyebabkan jam kerja bisa menjadi tidak teratur. Hal itu, semata-mata untuk mempertahankan perusahaan yang juga terdampak.

Namun, tidak ada kemustahilan keesokan hari, buruh-buruh yang merasa aman ini akan menjadi bagian dari orang-orang yang kebingungan untuk membiayai hidup. Inflasi bisa terjadi kapan saja tanpa aba-aba. Inflasi dapat menyebabkan kekacauan perekonomian negara. Dan perubahan perekonomian dapat mengubah psikologis masyarakat. Bukan saja buruh harian, buruh yang di PHK, tapi ancaman krisis perekonomian ini bisa melanda kita semua.

Lebanon contohnya, merupakan salah satu negara yang meminta bantuan IMF karena mengalami krisis ekonomi sebagai dampak dari covid-19. Krisis ini mengakibatkan kericuhan. Warga turun ke jalan, memprotes negara yang tidak dapat diandalkan dalam menjaga kestabilan ekonomi. Bentrokan antara masyarakat dan apparat tidak bisa dihindari. Bahkan bank-bank dibakar oleh massa. Diakibatkan karena nilai tukar pound Lebanon terhadap dollar AS yang merosot dan lonjakan pengangguran masyarakat yang kian meningkat.

Warga yang berada dalam kondisi kelaparan, sulit untuk berpikir rasional. Mereka tidak lagi peduli akan adanya covid-19, karena menurut mereka, tidak ada bedanya jika tetap di rumah dan mati kelapaaran. Pandemi covid-19 memberi dampak besar dalam aspek kehidupan manusia secara global.

Hari ini, hari buruh. Namun, tidak seperti hari buruh di tahun yang lalu. Buruh tidak dapat mengeluarkan aspirasi besar-besaran karena terdapat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mungkin jika bisa mengeluarkan aspirasi mereka akan berteriak meminta untuk tidak melakukan PHK. Aspirasi yang mereka lakukan hanya bisa ditumpahkan di media sosial. Salah satunya twitter, yang trendingnya hari ini adalah #bacotanburuh.

Buruh-buruh di Indonesia terlihat masih bisa berpikir sehat. Berusaha terus saling menyemangati untuk tetap menjaga kesehatan. Meski, gelombang PHK buruh tidak terduga. Mereka mencari alternatif pekerjaaan seperti membuat usaha mikro. Walaupun pekerjaan tersebut bisa dibilang tidak memiliki prospek yang baik sekarang ini.  

Namun, nampaknya kita juga harus bersiap-siap dalam kemungkinan terburuk. Jika hal ini terus-menerus terjadi dalam jangka yang lama. Maka imbasnya adalah kestabilan negara. Belajar dari Lebanon, semoga negara Indonesia pulih dengan cepat (shintia mustika).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *