nilanews.com

Fokus Dan Tuntas

EEP DULU, JOKOWI KEMUDIAN

Catatan Lukman Enha

SUATU hari, di sela minum kopi. Rekan, senior saya bercerita: waktu naik motor di tahun 1990-an, pakai kaos oblong, Eep bilang: uing engke rek jadi bupati (saya nanti bakal jadi bupati).

Senior saya itu sahabat Eep Hidayat. Ia pun menceritakan bagaimana Eep di masa lalu. Dengan segala keterbatasan tapi punya keberanian. Ya, sudah berani bermimpi jadi bupati. Saat naik sepeda motor bebek pakai kaos oblong.

Lalu saya mengingat lagi cerita Eep, entah kapan, yang jelas sudah lama. Pernah mencoba melamar jadi PNS penyuluh KB. Lalu gagal. Lalu memilih berjualan, lalu sering berurusan dengan penegak hukum, lalu terjun ke politik. Ceritanya terpotong-potong.

Mungkin keinginan jadi bupati memuncak saat Eep ditolak jadi penyuluh KB. Kelak, saat Eep jadi bupati, gelaran Kampung KB di Subang begitu meriah!

Kelak, senior saya, kawan Eep itu, menitikkan air mata saat Eep dilantik jadi bupati di DPRD. “Ya saya terharu, tak terasa air mata netes. Jadi ingat lagi saat dia bilang ingin jadi bupati, saat naik motor pakai kaos oblong,” katanya. Diceritakan tahun 2020 lalu.


Suatu hari di kampus Universitas Subang. Kabar kasus Sapi Gate menyeruak ke kampus. Eep disebut-sebut terlibat. Saat itu tahun 2007 menjelang Pilkada Subang. Lalu di tahun 2008 Pilkada benar-benar sengit.

Polwil Purwakarta (kini sudah tidak ada) menetapkan Eep menjadi tersangka. Tapi Eep bergeming, maju terus, daftar calon bupati dan memilih ajudannya Ojang jadi calon wakil bupati. Menang!

Padahal lawannya berat: Imas berpasangan dengan aktor yang lagi populer Primus Yustisio. Pemeran film serial ‘Panji Manusia Milenium’. “Keberhasilan Eep memenangkan Pilkada padahal berstatus tersangka itu menarik untuk diteliti,” kata dosen saya.

Ya, tentu tidak mudah. Seorang calon menyandang tersangka tapi masih bisa memenangkan Pilkada. Apalagi rivalnya juga berat. ‘Panji manusia millennium’ itu. Lagi trending di masyarakat bawah. Ganteng pula.

“Apa yang membuat dia menang?” tanya saya kepada dosen.

“Eep menampilkan sisi lain: dia baik ke masyarakat bawah. Saat kunjungan ke desa, tiba-tiba sering memberi kejutan memberi uang. Walau tidak besar. Itu mengesankan Eep baik,” katanya.

Selebihnya percakapan itu saya lupa. Yang jelas diskusi dari sisi komunikasi politik. Eep menarik untuk diteliti. Gesture dan komunikasinya unik.

Setelah beberapa tahun menjadi bupati, Eep melepaskan hampir semua ‘protokoler’ kaku. Melepas baju safari, memakai baju pangsi (serba hitam), memakai iket, tidak lagi dikawal Patwal. Sering tiba-tiba muncul di desa, di rumah warga, bahkan menginap di mana saja dia mau. Menolak dipangil ‘Pak’, ‘Bapak’. Cukup memanggilnya ‘Mang Eep’.

Baru setelah ramai pencalonan Presiden Jokowi di tahun 2009 muncul istilah ‘blusukan’. Bahasa Jawa. Dulu di era orde baru hanya dikenal Turba. Turun ke bawah. Maklum, di rezim itu banyak bahasa serapan atau istilah ke-militer-an. Saya menyimpulkan: yang blusukan itu Eep dulu, Jokowi kemudian.

Tapi saat itu belum ramai media sosial seperti sekarang, seperti era Jokowi. Maka tidak ada aksi-aksi Eep yang viral. Bahkan media pun di Subang masih jarang. Saya pun saat itu masih mahasiswa.
Kebetulan jadi Presiden BEM Universitas Subang pertama. Dilantik oleh Bupati Eep Hidayat tahun 2007. Yang datang memakai kaos merah, memakai iket. Pakai sandal gunung. Eep melawan segala formalitas. Out of the box!

Lalu kita tahu, kiprah Eep sebagai bupati benar-benar kandas. Di tahun 2012 lalu. Di masa jabatan kedua. Kasus Sapi Gate sebelumnya dihentikan. Kini malah terjerat kasus upah pungut PBB.

Saya menyaksikan Eep digelandang Kejaksaan Tinggi Jabar menjelang tengah malam. Saat itu, Eep keluar dari kaca mobil. Sempat berdiri dari jendela. Melambaikan tangan.
Saya balik lagi ke kantor redaksi. Membuat berita hot itu. Sayang, saat itu belum ‘musim’ media online. Pasundan Ekspres pun cetak dua kali. Hanya menerbitkan foto-foto penahanan Eep itu.

Warga yang menyaksikannya menyapa dengan campur aduk perasaan. Termasuk saya. Sebab sempat terjadi banyak drama menjelang penahanan Eep. Sebab tak hentinya Eep memberikan perlawanan sengit kepada penegak hukum. Melalui narasi di media massa. Melalui aksi massa berkali-kali.

Saya ditugaskan kantor meliput proses hukum Eep di Pengadilan Tipikor Bandung. Saya juga beberapa kali menemui JPU di Kejati Jabar. Setiap sidang, saya bolak-balik ke Bandung. Tidak ada yang terlewat.

Tak terhitung pula berapa kali aksi unjuk rasa di depan PN Tipikor. Baik yang mendukung maupun yang kontra. Demo yang berjilid-jilid, seperti demo pendukung Habib Rizieq. Hehe. Banyak pejabat Subang yang berdatangan. Menghadiri. Memberi dukungan diam-diam.

Rasanya ‘seru’ sekali. Banyak cerita yang bisa saya tulis. Berita tentang Eep hampir selalu headline. Pembaca antusias mengikuti. Saat memasuki bulan Ramadan pun saya tetap memacu motor meliput sidang tokoh unik ini.

Pernah suatu ketika, Eep menghadirkan saksi ahli dari Kementerian Dalam Negeri. Namanya masih saya ingat dengan baik Reydonizar Moenik. Kelak ia jadi juru bicara Kemendagri. Lalu menjadi Sekjen DPD RI sejak 2018.

Pembelaan Reydo sangat kuat. Bahkan ia membuat presentrasi power point, pakai infocus. Semua menyaksikan. Sangat meyakinkan. Dasar hukum kuat. Saat itu saya yakin, Eep akan bebas. Kebijakan Eep banyak dilakukan pula oleh kepala daerah lain. Memang berbenturan Peraturan Menteri Kuangan (PMK). Tapi begitu banyak tafsir hukumnya. Itulah yang menjadi dasar Eep melawan habis-habisan.

Benar saja, tak lama kemudian hakim ketuk palu Eep bebas. Saya telpon JPU usai sidang vonis bebas. “Kami akan banding!” katanya setengah teriak di ujung telepon.

Lalu, drama ini makin panjang. JPU Kejati Jabar banding. Eep melawan. Bahkan menantang Presiden SBY berdebat. Di sampaikan di televisi. Anda tahu, ada pula drama teatrikal Eep menggigit sendal jepit di gerbang Mahkamah Agung. Fotonya bahkan dijadikan baligo. Pertama dalam sejarah di Jawa Barat. Mantan kepala daerah beraksi begitu. Lalu ia pun membuat lagu: Ampun Pamarentah!

Jika blusukannya banyak sama dengan Jokowi. Tapi aksi dan nyelenehnya Eep beda dengan Jokowi. Semua drama itu kuat di ingatan masyarakat. Blusukannya, iketnya, baju khas sundanya, hingga kasusnya, melekat di benak publik. Yang paling melekat di ingatan publik lagu Mang Eep Balad Uing. Anak-anak hingga kakek-kakek, hafal lagu itu. Kelak ‘diwariskan’ ke Ruhimat dengan nada yang sama: Kang Ruhimaat…telolet uing!

Di suatu hari, saya pun berkesempatan ‘mengunjungi’ Eep di Sukamiskin. Benar saja, banyak pejabat yang berdatangan. Meminta saran. Meminta masukan. Selebihnya entah apa. Tak heran, di tahun 2016 saat Eep bebas, iring-iringan kendaraan menyambut kebebasan Eep.

Kejutan lainnya muncul. Surya Paloh memilih Eep memimpin DPD Nasdem Subang. Partai yang baru dibentuk di tahun 2011 lalu.
Eep tancap gas. Insting politiknya benar-benar tidak bisa dihentikan. Diam-diam, Eep menyodorkan sosok baru untuk Subang. Tahun 2017 ia pun mengorbitkan nama Ruhimat. Belum dikenal publik luas. Tapi nama ejaannya agak familiar, karena mirip Bupati Subang sebelumnya: Rohimat.

Nasdem terdepan mengibarkan nama Ruhimat. Spanduk wajahnya sudah bertebaran hingga ke pelosok desa. Melawan petahana Imas Aryumningsih.

Dewi fortuna berpihak. Publik memilih. Tuhan meridhai. Ruhimat menang. Nasdem berkibar. Dari tiga kursi merangsek naik jadi 6 kursi.

Sekarang baru 2021, masih tersisa 2 tahun menuju Pilkada 2024. Tapi Eep sudah mendeklarasikan Nina Nurhayati sebagai bakal calon Bupati Subang. Benar-benar unstoppable. Urusan politik, sulit dihentikan. Eep lagi-lagi sudah melangkah jauh. Kembali membuat kejutan.

Tapi narasi blusukan kini sudah tidak musim. Banyak julukan baru untuk Jokowi. Dari peneliti Australia, Jokowi dapat julukan lain: A Man of Contradiction. Lalu jika kita melihat jejak Eep, tidak berlebihan jika kita memandang Eep sebagai: A Man of Controversy.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *