nilanews.com

Fokus Dan Tuntas

MENGAPA WARGA SUBANG HARUS MEMILIH DPRD JAWA BARAT, DPR-RI DAN
CALON BUPATI URANG SUBANG ?

Yosep, Ketua Forum Koalisi Masyarakat Sadar Membangun Subang (KM-SMS)

Yosep, Ketua Forum Koalisi Masyarakat Sadar Membangun Subang (KM-SMS)

nilanews.com_ Mengapa dalam PILKADA dan Pileg warga Subang harus memilih Calon Bupati dan legislatif dari warga Subang sendiri? Menurut Yosep Suyono, Kordinator KM-SMS (Koalisi Masyarakat Sadar Membangun Subang), Warga Subang mempunyai beberapa pengalaman memilih warga dari luar Subang, baik untuk Bupati Subang, DPRD Jawa Barat maupun DPR-RI, dan pengalaman itu tidak cukup baik bagi warga Subang.

Dari sekian banyak mantan Bupati Subang yang berasal dari luar Subang, hanya ada satu keluarga yang masih tinggal di Subang disebabkan perusahaannya dan keluarganya kerja di Subang, sementara yang lain diketahui keberadaannya justru pada saat meninggal dunia dan tentu setelah tidak berada di Subang lagi. Hal kecil saja, kata Yosep, saya tanya pada masyarakat di lingkungan, mang Eep sudah tidak menjabat masih bergaul, gotong royong, dan masih bisa diminta bantuan kalau ada acara agustusan, maulidan, rajaban, kegiatan posyandu dan kegiatan lainnya oleh lingkungannya disebabkan mang Eep penduduk Subang yang KTP, rumahnya dan keluarganya tinggal di Subang.

Kita pernah memilih cukup banyak DPR-RI dan DPRD Jawa Barat yang berasal dari luar Subang, mereka setelah tidak menjadi anggota DPR RI dan DPRD Jawa Barat hampir tidak pernah datang ke Subang lagi, apalagi terdengar memperjuangkan Subang, “karena itu pada Pemilu 2024 ke depan warga Subang harus selektif pada saat memilih Calon Bupati, DPRD Jawa Barat dan DPR-RI, jangan seperti membeli kucing di dalam karung, jangan tergiur dengan baligo yang berserakan dimana-mana, jangan menjual harga diri dengan politik uang, tetapi harus menanyakan nomor HP Calon, pernah tidaknya menginjak desa / kelurahannya, alamat KTP dan rumahnya dimana, di Subang atau jauh di luar Subang, dan mana program tertulisnya?”

Saat Yosep ditanya, bagaimana strategi menyikapi politik uang? Sekurang-kurangnya kata Yosep, duitnya diterima tetapi memilih tetap harus selektif, “saya sih gampang saja kalau memilih, tahu rumahnya, nomor KTP-nya, nomor HP-nya, pernah datang ke desa/keluarahan saya, bukan dikunjungi oleh gambar dan baligonya saja, dan berapa nomor HP-nya, setelah jadi Anggota DPRD Jawa Barat, DPR RI atau Bupati diganti atau tidak nomor HP-nya, masa saya harus memilih orang yang tidak tahu rumahnya dimana?”

Saat Yosep ditanya kalau dirinya dihadapkan pada dua pilihan, apakah akan memilih warga ber KTP-Subang dan tinggal di Subang yang berasal dari luar Subang atau putra kelahiran Subang yang sudah menjadi penduduk di luar Subang? Dengan nada enteng Yosep mengatakan, “saya akan pilih warga ber-KTP Subang dan bertahun-tahun sudah menjadi warga Subang walaupun berasal dari Minangkabau atau Sumatera misalnya karena seseorang dimana dilahirkan bukan kehendaknya melainkan taqdir Ilahi.”

Yosep menghimbau, kalau dalam Pileg atau pilkada ada calon dari luar Subang yang mencalonkan legislatif atau Bupati dan membagikan uang kepada masyarakat, puluhan ribu atau ratusan ribu, atau berapa pun, maka terima duitnya, sedangkan memilih sesuai program dan hati nurani serta tahu alamat rumahnya, “apabila ada tim suksesnya yang menyebarkan uang marah karena calonnya tidak dipilih, laporkan pada saya, saya siap menghadapinya dan para pelacur politik seperti itu wajib dipidanakan!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.