nilanews.com

Fokus Dan Tuntas

PENDIDIKAN BERBASIS EKOPEDAGOGIK FUTURISTIK UNTUK GENERASI KAB. SUBANG

Sebuah Kajian Kritis dalam Presfektif Pedagogik Transformatif
Oleh: R. Fatahidin (Peneliti Ekopedagogik, Departemen Pedagogik – Universitas Pendidikan Indonesia)

Dunia hari ini telah dibanjiri dampak IPTEK yang kian hari kian berkembang, Arus Gerakan Revolusi Industri yang tak terbendung cenderung mengarah kepada pola kebutuhan yang tergantung pada industri, import, kemasan, dan transportasi jarak jauh. Kecenderungan tersebut tidak bisa dipungkiri dapat menimbulkan berbagai persoalan baru yang mengarah pada perusakan lingkungan dan hilangnya nilai kearifan lokal suatu masyarakat. Secara filosofis, manusia merupakan makhluk multidimensional yang salah satunya adalah memiliki hubungan dengan alam atau lingkungan, sehingga pengembangan manusia dalam proses pendidikan tidaklah terpisah dari hakikatnya tersebut, dan akan selalu terkait erat dengan ruang dan waktu dimanapun dan kapanpun, hal ini berimplikasi pada kewajiban manusia untuk senantiasa selalu menjaga keselarasan, keselarasan dan kesinambungan alam.

Bertemali dengan hal tersebut, upaya untuk menjaga keselarasan, keharmonisan dan kesinambungan alam sangat berbanding terbalik dengan realitas yang ada. Sumber-sumber alam diperlukan diolah untuk memenuhi kebutuhan materil manusia, sebaliknya kebutuhan manusia semakin meningkat dan terdorong oleh kemungkinan-kemungkinan baru dalam mengolah dan mengurus sumber-sumber alam. Meskipun pada dasarnya semua manusia menyadari bahwa alam merupakan satu-satunya sumber penghidupan dan memiliki nilai serta bermanfaat untuk sebuah kehidupan, akan tetapi pada kenyataannya, alam menjadi objek kehidupan yang terus dieksplorasi dan diekploitasi sumber daya alamnya secara berlebihan oleh manusia melalui tindakan perusakan, pencemaran dan berbagai tindakan buruk lainnya.

Tak terkecuali di Kabupaten Subang yang menjadi objek vital para investor lokal maupun global sebagai zona potensial dalam pendirian perusahaan-perusahaan besar di dalam berbagai sector, tak terkecuali pembangunan proyek pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kerusakan alam yang tidak disadari sudah memperihatinkan, serta sangat merugikan masyarakat dan ekosistem yang hidup di dalamnya, masyarakat yang berpegang teguh melestarikan nilai kearifan lokal kian hari semakin hilang, sedangkan alam bernilai sangat penting dalam memberikan manfaat kepada manusia di sekitarnya. Hal tersebut diperparah dengan kecenderungan sebagian masyarakat Kab. Subang yang memaknai pendidikan sebagai sebuah lintasan masa depan semata, artinya berorientasi pada pemenuhan lapangan pekerjaan di pabrik-pabrik.

Berdasarkan problematika tersebut perlu adanya upaya strategis untuk merancang bangun paradigma baru guna mewujudkan model pendidikan yang menekankan pada nilai kearifan budaya dan kesadaran ekologis masyarakat Kab. Subang, serta upaya dalam membangun sikap kritis dan kepedulian dalam memahami berbagai fenomena kehidupan yang merugikan lingkungan hidup. Bertemali dengan hal ini, upaya menaggulangi problematika tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pendidikan yang menekankan pada nilai kearifan budaya atau berbasis pada kearifan lokal, serta upaya dalam membangun sikap kritis dan kepedulian dalam memahami berbagai fenomena kehidupan yang merugikan lingkungan hidup melalui reposisi relasi manusia dengan alam atau lingkungan hidup.

Model pendidikan berbasis lingkungan lokal atau ekopedagogik merupakan proses pendidikan yang menggunakan lingkungan dan masyarakat lokal sebagai “titik awal” dalam membelajarkan konsep tentang teks dan konteks mata pelajaran, serta berbagai subjek pelajaran lain sesuai kurikulum. Melalui pembelajaran yang terfokus pada praktek dan pengalaman tentang dunia nyata, model tersebut dapat meningkatkan pencapaian akademik masyarakat, membantu mereka untuk mengembangkan hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat lainnya, meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap alam dan lingkungan, serta menciptakan komitmen yang lebih kuat bagi masyarakat untuk senantiasa bertanggung jawab melestarikan nilai-nilai di dalam suatu masyarakat. Dapat difahami bahwa model ekopedagogik tidak terbatas pada aspek kognitif, namun mencakup berbagai tantangan, perilaku, sikap, prespektif, kepedulian dan kemampuan untuk merasa terikat dengan komunitas manusia. Apabila itu terjadi, maka akan terpancar paradigma manusia untuk menegakan hidup seimbang, artinya mengharuskan manusia menempatkan dirinya sebagai bagian daripada lingkungan alam. Hidup berimbang merupakan perwujudan dari pertumbuhan nilai keimanan yang kuat dan orientasi hidup untuk bertindak lebih baik. Dapat difahami bahwa semakin kokoh nilai keimanan seseorang diserati hidup bertindak lebih baik, maka seimbang pula kehidupan manusia dan semakin terbuka diri kita sebagai manusia yang mampu mengembangkan dan membangun generasi yang insanul kamil.

Bertemali dengan hal tersebut, maka dapat kita pahami bahwa pentingnya pendidikan berbasis ekopedagogik futuristk merupakan upaya membangun karakter dan kemampuan masyarakat agar mampu menjadi manusia yang bertanggung jawab dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan, serta menjadikan alam sebagai suatu sumber kehidupan yang positif (manfaat) sehingga membawa manusia kepada keselarasan atau keseimbangan, kebahagiaan, kesejahteraan atau kemuliaan hidup dan kehidupan, sebaliknya alam tidak dijadikan objek negatif yang dapat menyebabkan kehancuran kehidupan manusia sendiri di masa sekarang dan masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *