nilanews.com

Fokus Dan Tuntas

TARUNA MATA AIR (TMA) SUBANG: “EXPLORE BUKANAGARA MELALUI SECANGKIR KOPI”

NILANEWS.COM, BUKANAGARA – Taruna Mata Air melakukan ekspedisi ke daerah bukanagara cisalak pada hari Kamis (21/05/2020)

Berawal dari secangkir kopi semua bisa terselesaikan, seperti beberapa kisah yang pernah saya temui ketika berkunjung ke kampung atau komunitas. Bertanya kepada kawan yang saat ini menekuni profesi sebagai seorang penyeduh kopi dan juga memiliki usaha kopi di Bukanagara, Cisalak-Subang. Dia bilang “Budaya ngopi bisa kita temui di semua tempat meskipun mereka bukan penghasil kopi. Bukti itu terlihat dari cangkir-cangkir kopi yang terjajar rapi di rak tempat penyimpanan piring dan perabot dapur,”.

Semakin penasaran dengan kopi, bukan pengamat dan bukan juga penikmat. Namun sebagai seorang peminum kopi, ketika melakukan perjalanan ke dataran tinggi Bukanagara, tepatnya ke Kedai Cupumanik menemukan kenikmatan tersendiri. Semakin bertanya-tanya ke dalam hati, apakah mereka memproduksi dan menjualnya untuk penambah sumber perekonomian keluarga mereka?.

Masih bercerita tentang kopi bersama pemilik kedai, saya yang bukan seorang pengamat kopi mencoba bertanya sang maha guru “mbah google” tentang jenis-jenis kopi. Ternyata semakin terkejut karena ada beragam jenis kopi yang tersebar di muka bumi.

Di kedai, kami menyempatkan diri untuk menikmati kopi daerah Bukanagara, bersama kawan yang saat ini sudah menjadi seorang pecinta vespa dan win. Ngobrol ngalor ngidul tentang kegiatan dia sembari mencoba menikmati kopi, kembali menarik untuk mengurai isi kepala tentang pergulatan petani kopi di seluruh Nusantara.

Mereka bertarung dengan harga panen yang terkadang tidak seberapa. Dan betapa harga kopi ketika sudah tersaji dalam sebuah cangkir sangatlah tidak sebanding dengan peluh dan pembodohan yang dialami oleh petani kopi di dataran-dataran tinggi sejak masa Kolonial.

Masih lagi tentang pembicaraan bersama kawan seperjalanan “semakin genit tampilan kedai atau coffee shop, maka semakin banyak menguras kantong pemodalnya”.

“Catatan perjalanan ngopi sana sini dari saya yang bukan seorang pengamat ataupun penikmat kopi”, catatan ini saya dedikasikan untuk kalian semua para petani kopi, para pengusaha kopi di kampung dan kalian-kalian yang berusaha menjadi pengamat kopi.

Satu saja yang ingin saya tekankan dalam catatan saya ini “Jangan pernah tinggalkan dan khianati para petani kopi, hanya karena mengejar untung dan takut rugi”. (AN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *